menu melayang

Jumat, 26 Februari 2021

Perihal Glorifikasi Dan Romantisme Kepedihan

Sumber: freepik.com

Fenomena yang marak sekarang adalah orang sering memposting foto orang yang sangat menderita lalu meromantisasi dan mengglorifikasi penderitaan, kesedihan, dan ketidakberuntungan tersebut dengan memberikan
caption-caption yang akan membuat kita bersyukur atas ketidakberdayaan mereka. Seolah-olah memberikan justifikasi atas rasa syukur yang ‘harusnya’ kita ucapkan.

Apakah alasan yang mendasari kenapa orang suka meromantisasi hal-hal yang seharusnya tidak perlu diromantisasi? Agar mereka tidak terlalu merasa bersalah. Contohnya adalah, meromantisasi buruh yang dieksploitasi/meromantisasi kemiskinan, memampang foto mereka sedang bekerja dan memberikan kata-kata menyentuh, "Sudahkah kamu bersyukur hari ini?", dengan menyuguhkan foto-foto mereka yang tidak berdaya. Apakah layak—secara moral, kita dengan bangganya bersyukur atas ketidakberuntungan mereka? Konten-konten yang menyuruh kita untuk bersyukur dengan memberikan gambaran orang-orang yang hidupnya sangat menderita ini saya rasa jahat, menggunakan orang lain untuk mengorek rasa syukur. Padahal bersyukur itu datangnya dari hati, sadar jika kita merasa cukup atas apa yang kita punya, bukan bersyukur karena kita membandingkan nasib dengan orang yang lebih menderita. Membayangkan ketidakberuntungan dan ketidakberdayaan kita dijadikan bahan bersyukur oleh orang lain saja sudah membuat kita memberikan label negatif ke orang tersebut, lantas jika kita tidak mau kemalangan kita dijadikan bahan beersykur orang lain, mengapa kita harus mengorek rasa syukur itu lewat ketidakberdayaan orang lain?

Justru mereka yang menderita yang menjadi bahan untuk bersyukur adalah mereka yang sebenarnya perlu dibantu, yang seharusnya perlu kita beri uluran tangan. Romantisasi kemiskinan yang digaungkan adalah hasil dari kegagalan sistem, kalo istilah ekonomi adalah kemiskinan struktural (structural poverty), selama masih bercokolnya sistem kapitalisme yang tidak sehat maka kemiskinan struktural ini akan terjadi. Tidak peduli sekeras apapun mereka bekerja, mereka akan tetap berada di bawah garis kemiskinan. Itu fakta lapangan yang terjadi.

Romantisasi penyakit mental apalagi. Mengglorifikasi penyakit mental hingga menjadikannya konten. Membayangkan bagaimana mereka berjuang untuk pulih, rasa sakit, dan keputusasaan yang mereka hadapi pasti sangat berat. Kemudian atas kemalangan penyintas mental illness ini masih saja dibuat konten, dan parahnya dimonetisasi. Lantas menjadikannya sumber pundi-pundi cuan dan masuk ke kantong pribadi dan kolega. Lalu sekarang yang terjadi, romantisasi pekerjaan medis. Bukan. Bukan berarti tidak menghargai pekerjaan mereka yang bahkan menjadi front-liners penyelamat berjuta-juta nyawa, tapi meromantisasi dengan kalimat, "Subhanallah, betapa mulianya para dokter-dokter ini" dengan memposting foto-foto mereka menggunakan APD yang tidak layak (kantong plastik atau jas hujan) akan mengaburkan apa yang sebenarnya terjadi, fokus masyarakat akan bergeser. Masalahnya, Nakes sekarang kekurangan APD, yang seharusnya dinarasikan adalah kenapa mereka tidak mendapatkan perlindungan yang layak ketika mereka harus berhadapan langsung dengan tubuh pasien yang terinfeksi. Dokter tidak perlu dikasihani dan disanjung, mereka perlu dilindungi dengan perlindungan yang layak. Mereka bahkan tidak mendapatkan apa yang seharusnya mereka perlukan, jaminan keamanan dan keselamatan. Ironisnya, masih banyak orang di luar sana meromantisasi hal ini.

Perihal menjadi manusia yang bersyukur saja tidak cukup, jadilah manusia yang lebih berempati kepada sesama.

Kontributor: Iis Setyawati (@iisstywt)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Back to Top

Cari Artikel