menu melayang

Senin, 30 Agustus 2021

Peringati Bulan Kemerdekaan, Al-IMAN Gelar Pengajian Bersama Habib Jindan

 

Habib Jindan bin Novel bin Salim menyampaikan ceramah pada acara peringatan tahun baru Islam dan bulan kemerdekaan, Sabtu (28/8).

Tangerang Selatan, Media Center – Alumni Ikatan Mahasiswa Nahdliyyin (Al-IMAN) gelar pengajian secara virtual bersama Habib Jindan pada Sabtu (28/8) sebagai peringatan bulan kemerdekaan dan tahun baru Islam.

Kedua momen besar tersebut kebetulan terjadi pada waktu yang bersamaan sehingga hal itu menjadi momentum mengobarkan semangat. “Ini (bulan kemerdekaan dan tahun baru Islam) momentum yang pas buat kita untuk membangun semangat, yang pertama adalah semangat muhasabah,” ujar Kiai Tamam Khaulani, Ketua Al-IMAN saat ini.

Pengajian ini bersinergi dengan berbagai elemen kampus dan organisasi sebagai akselerasi kebermanfaatan ke depannya. “Kami juga berkolaborasi dengan berbagai elemen kampus (BEM, Medcen), organisasi alumni (Ikanas), serta organisasi di Kemenkeu yaitu UPZ Kemenkeu,” kata Alvan Chaqiqi, koordinator kegiatan Peringatan Hari Besar Islam saat diwawancarai melalui pesan WhatsApp. Dia juga menyampaikan bahwa acara ini dapat meningkatkan peran dakwah Islam Ahlussunnah wal Jamaah serta IMAN dan Al-IMAN untuk berdakwah secara professional.

Dalam peringatan bulan kemerdekaan dan tahun baru Islam ini, Habib Jindan mengajak kita meneladani sifat Rasulullah, Nabi Muhammad saw., salah satunya adalah kesabaran Rasulullah saat dicaci dan difitnah. Beliau bahkan menganjurkan kita beribadah meskipun orang lain menzalimi kita. “Ibadah di masa-masa fitnah, kata Rasulullah saw. itu pahalanya seperti hijrah kepada aku (Nabi Muhammad saw.),” tegas beliau.

Habib Jindan menjelaskan kembali bahwa Nabi Muhammad saw. adalah manusia paling amanat dan sosok muslim sejati. Bahkan, proses hijrah beliau dinantikan oleh seluruh umat, tak terkecuali seorang pendeta bernama Abdullah bin Salam. Kelebihan sifat beliau selanjutnya terbukti ketika Rasulullah saw. akan dibunuh oleh orang kafir yang kalah perang. Atas pertolongan Allah Swt. peristiwa tersebut digagalkan. Si orang kafir ditawari masuk Islam, tapi ia menolak. Ketika orang tersebut berjanji tidak akan memerangi Islam meskipun ia tak mau menjadi muslim, Rasulullah swt. membiarkannya pergi begitu saja. Beliau lebih memilih memaafkan daripada langsung menghakimi tersangka percobaan pembunuhan itu.

Meskipun persiapannya cukup singkat, hanya sekitar 10 hari, acara dapat berlangsung dengan lancar, baik melalui Zoom Meeting dan YouTube yang dihadiri hampir 200 peserta. Pengajian seperti ini pun bagus diadakan, apalagi secara rutin karena banyak hikmahnya, di antaranya mempererat persaudaraan dan meningkatkan aksi-aksi sosial. “Banyak hal yang bisa kita lakukan, baik dalam rangka menegakkan atau mempererat persahabatan persaudaraan di antara kita dan juga yang kedua dalam rangka meningkatkan aksi-aksi sosial di saat pandemi yang mendera republik ini,” kata Helmy Yahya, ketua Ikatan Alumni STAN (IKANAS).

Salah seorang peserta juga menyampaikan bahwa acara ini menyadarkan kita bahwa Islam adalah rahmat semesta alam. “Sebagi umat muslim kita harus menampilkan wajah muslim yang sebenarnya, kita harus mencerminkan bahwa Islam rahmatan Lil Al-Amin,” kata Nensy Setyaningrum. Dia juga menambahkan harapan, semoga kita disembuhkan dari pandemi batin dan dzahir—penyakit jasmani.

 

Reporter: Surono


Related Post

Back to Top

Cari Artikel