menu melayang

Rabu, 20 Oktober 2021

Hustle Culture : Budaya Gila Kerja yang Beresiko Tinggi

Sumber: bloomberg.com

Dewasa ini, tidak jarang ditemui orang-orang dengan intensitas kerja yang tinggi. Banyak pekerja yang mendedikasikan sebagian besar waktunya untuk bekerja. Sebagian dari mereka beranggapan bahwa semakin banyak pekerjaan yang mereka ambil, semakin cepat mereka memperoleh kesuksesan. Bahkan tak jarang pula pekerja yang karena sibuk dengan pekerjaannya sampai melalaikan waktu untuk istirahat atau aktivitas lainnya. Fenomena seperti itu dapat disebut sebagai Hustle Culture.

 

Dikutip dari laman Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Hustle Culture adalah gaya hidup dalam masyarakat dimana seseorang menganggap dirinya hanya bisa mencapai kesuksesan bila dirinya terus bekerja keras dan hanya meluangkan sedikit waktu untuk beristirahat. Gaya hidup ini membuat seseorang merasa aspek hidup terpenting adalah mencapai tujuan profesional dengan bekerja tanpa henti.

 

Dalam dunia kerja, Hustle Culture dapat terwujud karena beberapa faktor. Misalnya adalah promosi jabatan dan tambahan tunjangan atau kenaikan gaji. Beberapa insentif tersebut tentunya cukup menggiurkan. Tidak sedikit pekerja yang rela bekerja sepanjang hari hingga harus berkompetisi dengan rekan kerja lainnya untuk mendapatkan beberapa insentif tersebut. Padahal ada cukup banyak penelitian menunjukkan bekerja terus menerus dalam waktu yang cukup lama tidak berbanding lurus dengan tingkat produktivitas. Seseorang yang bekerja secara berlebihan berpeluang mengalami gangguan kesehatan seperti gangguan kecemasan, depresi, serta gangguan tidur.

 

Hustle Culture sendiri merupakan sebuah isu yang telah mendunia. Di Jepang, terdapat istilah yang disebut Karoshi. Karoshi merujuk pada kematian yang timbul akibat terlalu banyak bekerja. Dikatakan dalam sebuah jurnal, selama tahun 2002 hingga 2005, Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang mencatat sekitar 300 kasus kerusakan hati dan otak akibat budaya gila kerja di Jepang (Iwasaki, Takahashi, dan Nakata, 2006).

 

Hustle Culture tidak hanya terjadi di kalangan pekerja saja, tetapi juga dapat di kalangan mahasiswa. Saat ini mahasiswa sangat aktif tidak hanya di lingkungan akademik, tetapi juga dunia kerja. Kriteria pekerja yang berbeda-beda di setiap lowongan membuat banyak mahasiswa berusaha memenuhi berbagai macam kriteria tersebut. Mulai dari mengikuti lomba akademik, kegiatan volunteer, hingga magang atau internship di perusahaan-perusahaan besar. Semua dilakukan demi mempersiapkan diri dalam memasuki dunia kerja nanti. Selain itu, mahasiswa juga harus menghadapi tugas-tugas yang diberikan oleh dosen. Banyaknya kegiatan yang menambah beban tanggung jawab ini dapat menjadi cikal bakal dari munculnya Hustle Culture di kalangan mahasiswa.

 

Berikut beberapa dampak yang bisa ditimbulkan dari fenomena Hustle Culture.

1.      Gangguan kesehatan

Pada intinya, Hustle Culture sangat beresiko terhada kesehatan, baik secara fisik maupun psikis. Secara fisik, gangguan kesehatan dapat terwujud berupa rasa lelah yang berlebih atau gangguan pada organ tubuh. Tubuh manusia hakikatnya membutuhkan waktu untuk beristirahat. Sementara Hustle Culture mendorong manusia untuk bekerja dengan intensitas tinggi hingga dapat melupakan waktu makan, istirahat, olahraga, atau refreshing. Pola makan yang tidak teratur dapat berdampak negatif pada organ-organ pencernaan seperti usus, lambung, dan yang lainnya. Tidur atau istirahat yang kurang juga kurang baik untuk kesehatan organ jantung.

Tak hanya menyerang secara fisik, budaya ini juga berpeluang menyerang kesehatan manusia secara psikis. Orang yang bekerja terus menerus dapat memicu kenaikan tingkat stres karena harus dipaksa untuk berpikir dalam waktu yang lama. Stres yang tidak bisa dikendalikan dapat memunculkan masalah pada mental (mental illness) seperti gangguan kecemasan hingga depresi. Ketika kesehatan tubuh sudah terganggu, maka justru akan pekerjaan akan terganggu. Secara tidak lansung, gangguan kesehatan mental akan mengurangi produktivitas seseorang dalam bekerja.

2.      Kehidupan tidak seimbang

Bekerja dengan intensitas yang tinggi tak hanya berdampak negatif pada kesehatan tubuh, namun juga pada kehidupan manusia yang tidak seimbang. Terlalu banyak waktu yang dihabiskan untuk bekerja membuat seseorang tidak memiliki waktu untuk berinteraksi dengan lingkungan sosial, pergi ke tempat rekreasi, dan menekuni hobi atau aktivitas lain yang diminati. Hal ini tentu tidak sejalan dengan konsep work-life balance yang sewajarnya ditanamkan untuk menjalani hidup yang lebih baik.

3.      Burn Out

Dampak ini merupakan kelanjutan dari gangguan kesehatan mental. Burnout merujuk pada kondisi manusia yang sangat lelah dan tidak bisa bekerja karena stres yang berlebih. Dampak negatif ini mungkin menjadi salah satu yang paling dikhawatirkan. Karena, ketika sudah mencapai tahap ini, seseorang akan kehilangan produktivitasnya. Semua pekerjaan hingga kehidupannya akan terganggu. Bahkan bisa saja karir seseorang akan berakhir.

 

Melihat bahaya yang dapat ditimbulkan di atas, sudah sepatutunya Hustle Culture diantisipasi agar tidak terus menerus mengakibatkan dampak buruk bagi manusia. Beberapa alternatif di bawah dapat dilakukan untuk mengantisipasi hustle culture adalah sebagai berikut.

1.        Memperbaiki mindset

Quotes yang cukup populer “Bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja” memang benar adanya dan hal tersebut dapat menjadi refleksi para pekerja atau orang-orang yang masih beranggapan bahwa hanya dengan bekerja tanpa henti tujuan-tujuan hidup dapat tercapai.

Persoalan hidup juga bukan hanya tentang pekerjaan dan uang. Selain itu, masih ada hal-hal penting yang perlu diperhatikan, seperti kesehatan tubuh, waktu untuk keluarga, dan aspek-aspek religious.

2.        Manajemen waktu yang baik

Manajemen waktu antara pekerjaan dan aktivitas lain perlu diperhatikan dengan baik. Selain bekerja, manusia membutuhkan waktu istirahat dan rekreasi. Manajemen waktu yang baik dilakukan agar waktu bekerja dan aktivitas lainnya seimbang.

3.        Melakukan apresiasi diri bahwa apa telah dilakukan sudah lebih dari kata cukup

Sederhananya, kita boleh mengapresiasi atau memuji diri kita sendiri atas apa yang telah kita kerjakan. Hal ini dilakukan untuk membendung pikiran-pikiran negatif yang dapat mendorong budaya Hustle Culture, seperti selalu merasa kurang atas apa yang dimiliki dan rasa iri terhadap terhadap pencapaian orang lain.

 

Dari narasi di atas, sudah sepantasnya kita sebagai mahasiswa untuk mulai membiasakan berpikir lebih rasional. Bekerja dengan intensitas tinggi merupakan hal yang positif selama masih sesuai dengan porsi kemampuan kita. Namun ketika kita bekerja hingga mengabaikan aspek-aspek penting lainnya, hal tersebut akan menjadi boomerang bagi kita.

 

Referensi :

https://fk.unair.ac.id/mengenal-hustle-culture-budaya-gila-kerja-generasi-muda/

https://www.brilio.net/creator/hustle-culture-sisi-gelap-gila-kerja-be4d94.html

https://www.kompasiana.com/himiespa/60f6b016b13fde65ab1e0363/work-life-im-balance-memahami-hustle-culture-melalui-perspektif-ekonomi?page=2&page_images=1

https://www.beautynesia.id/berita-career/4-dampak-buruk-hustle-culture-budaya-gila-kerja-yang-tidak-sehat/b-237322

https://bisnismuda.id/read/4348-dessy-fadia-haya/cara-mengatasi-hustle-culture-dan-faktor-faktor-penyebab-menjadi-hustle-culture

Iwasaki, Kenji, Masaya Takahashi, and Akinori Nakata. 2006. “Health Problems Due to Long Working Hours in Japan: Working Hours, Workers’ Compensation (Karoshi), and Preventive Measures.” Industrial Health 44 (4): 537–40.

Kontributor: Rian dan Naufal

 

Blog Post

Related Post

Back to Top

Cari Artikel