menu melayang

Sunday, April 19, 2026

Anthopile dan Kopinya

(Foto: Dok. Pribadi)


 

Kling-kling. Bunyi lonceng yang menempel di atas pintu kafe yang sudah cukup lapuk di makan usia. 

Ini adalah kafe favoritku dari seluruh kafe yang berdiri di kota ini. Aku mencintai racikan kopinya, biasanya aku hanya cukup memesan satu kopi spesial maka mereka akan mulai meracik racikan terbaik yang mereka miliki. Varian itu tidak ada di buku menu, mungkin hanya pelanggan setia saja yang tahu, dan aku adalah salah satunya.

Hari ini aku menunggu seseorang, yang beberapa hari yang lalu aku kenal dari aplikasi kencan warna merah muda. Aku lumayan tertarik dengan yang satu ini. Parasnya yang terlihat dari profil akunnya begitu tampan dan menawan, lalu tertulis juga, di bio, bahwa ia menyukai kucing dan yang paling penting “Anthophile”, sebuah catatan penting yang membuatku langsung menggeser ke kanan profilnya. Tapi seperti biasa aku tidak akan berekspektasi apa pun, menurutku deklarasi dan bukti adalah dua hal yang sering kali berbeda.

Kling-kling. Lagi-lagi terdengar bunyi lonceng yang menandakan ada seseorang yang baru saja masuk ke dalam kafe. Suara loncengnya berbunyi bersamaan dengan suara derap langkah kaki sepatu pantofel yang mengentak keras lantai kayu yang sudah kusam namun malah jadi terasa autentiknya. Ia melangkah menuju ke arahku, yang aku lihat pertama kali adalah wajahnya, sama. Ia berhenti sejenak memastikan wajah dan gerak-gerikku, walaupun aku sudah tahu bahwa dia adalah orang yang akan aku temui tapi aku tidak ingin memanggilnya duluan. 

“Andin?”. Ia bertanya lembut, bersamaan dengan harum bunga krisan dan sedikit bau laut yang samar-samar tercium, jadi kombinasi ampuh untuk meneguhkan bahwa dirinya adalah laki-laki flamboyan. 

“Iya, Petra ya?”. Aku menanyainya balik hanya sekedar basa-basi karena aku sudah sangat yakin ia lah orang yang sudah aku tunggu-tunggu sedari tadi.

“Aku izin duduk sini ya”. Suaranya begitu halus, aku bergidik hanya karena mendengarkan dia berbicara, tak siap membalas pertanyaannya aku hanya mengangguk beberapa kali agar ia segera mendudukkan pantatnya di kursi di depanku.

Sejenak kami menghabiskan waktu hanya untuk saling pandang sebelum akhirnya seorang pelayan mendatangi untuk menanyai pesanan kami.

“Aku V-60 aja, kalo kamu mau apa Andin?”. Ia menunjuk menunya kemudian memalingkan muka bertanya padaku.

“Aku kopi spesial aja ya yang biasa”. Aku menatap si pelayan, memberikan gestur—biasa—yang hanya kami berdua pahami. Ia melihat kami bingung, bingung karena gerak-gerik kami dan karena menunya yang tidak ada di buku menu.  

“Oh iya kak, aku mau kopinya panas ya”. Aku menambahkan.

“Panas?”. Si pelayan nampak bingung coba untuk menanyai aku “pesanan biasa” yang jadi tidak biasanya.

“Iya panas”. Aku mengingatkannya lagi. Dan sekejap kemudian ia langsung memahami maksudku, ia mengangguk sambil berkata. “Oh panas”. 

Perbincangan kami diawali dengan pembahasan basa-basi, dengan topik yang tidak beda jauh dengan laki-laki sebelum-sebelumnya. Pekerjaan, keluarga, sedikit pandangan hidup yang semuanya bagiku membosankan. Jika seperti ini terus aku takut ini akan berakhir seperti pertemuanku yang sudah-sudah—pulang karena bosan.

Namun ketika ia tiba membahas anggrek bulannya yang mulai layu di kebun rumahnya mataku langsung berbinar. Dengan cepat aku sambut ceritanya dan aku sebutkan cara-cara agar anggreknya tidak layu lagi tapi belum selesai aku menjelaskan dia sudah menyanggah dengan berkata bahwa anggreknya memang sudah tua dan ini memang sudah saatnya mereka berguguran. Perutku jadi berkecamuk, ia benar-benar mengerti tentang bunga. Aku suka.

Pesanan kami tiba namun kami tidak menggubrisnya lagi.  Kami berdua hanyut dalam sungai penuh bunga warna-warni di kepala, dari cempaka telur warna kuning yang suka malu-malu untuk mekar penuh sampai petunia warna ungu yang biasa jadi pagar di halaman depan rumah, semuanya kami bahas. Tidak ada yang kami lewatkan, semua pengetahuan kami jadi pembunuh senyap sang waktu. Hingga kami lupa V-60 miliknya telah tertetes dengan sempurna di cawan keramik bermotif bunga anemon biru. 

“Eh, sampai lupa kopinya, minuman kita jadi ga panas lagi deh Andin”. Ia menepuk kepala, tersadar telah meninggalkan kopinya terlalu lama.

“Ah iya Petra, tapi gapapa aku lebih suka kopi dingin kok”. Aku tersenyum manis, maklum.

“Terus kenapa tadi pesan kopi panas?”. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kebingungan.

“Ayok cerita lagi, aku tertarik”.


Karya Oleh :
Aditya Ghalib Utomo

No comments:

Post a Comment

Back to Top

Cari Artikel