menu melayang

Sunday, April 19, 2026

Berdamai dengan Kedalaman





 

Sumber : Pinterest

Berdamai dengan Kedalaman
oleh: Faris Abdurrahman

    Aroma kaporit yang menyengat, pantulan cahaya matahari di riak kebiruan, dan gema tawa anak-anak di kolam renang umum adalah lanskap masa kecilku. Dulu, hampir setiap akhir pekan, keluargaku selalu membawaku ke sana. Niat mereka sangat sederhana dan penuh kasih, mereka ingin aku lekas mahir berenang. Bagiku saat itu, air hanyalah tempat bermain yang menyenangkan. Namun, aku tidak pernah tahu bahwa di salah satu akhir pekan yang terkesan biasa saja itu, duniaku akan jungkir balik.

    Kejadian itu berlangsung begitu cepat, di saat tidak ada yang menyangka. Aku yang saat itu masih kecil, tanpa sadar melangkah terlalu jauh dari area dangkal. Tiba-tiba, kakiku tidak lagi menemukan dasar ubin kolam. Aku terperosok ke dalam air. Keterkejutan membuatku secara refleks membuka mulut untuk berteriak, namun yang masuk justru air dingin yang langsung mencekik kerongkongan. Pandanganku mengabur, suara hiruk-pikuk di atas permukaan seketika teredam, digantikan oleh dengung kepanikan di telingaku. Di bawah sana, aku meronta sejadi-jadinya, melawan sesuatu yang jauh lebih besar dariku, sebelum akhirnya sebuah tangan menarikku ke permukaan.

    Aku selamat, namun sebagian dari diriku tertinggal di dasar kolam itu. Sejak detik itu, trauma menancapkan jangkar berkaratnya dalam-dalam di benakku. Melihat genangan air, bak mandi yang penuh, atau bahkan rintik hujan yang deras seketika membangunkan monster tak kasat mata yang merenggut paksa rasa amanku. Aku menjadi anak yang sangat memusuhi air.

    Orang tuaku menyadari perubahan drastis ini. Menyadari bahwa ketakutan ini bisa melumpuhkan masa depanku, mereka tidak rela membiarkanku hidup dalam bayang-bayang trauma. Mereka pun menjelma menjadi mercusuar kokoh yang dengan sabar menuntunku perlahan untuk kembali ke lautan lepas. Langkah pertama yang mereka ambil adalah mendaftarkanku ke sebuah kelas les renang profesional.

    Awalnya, diwajibkan kembali menjejakkan kaki ke dalam kolam renang terasa seperti menjemput mimpi buruk. Tubuhku kaku dan napasku memburu. Namun, dengan pendampingan pelatih, aku tidak langsung disuruh berenang, aku diajak untuk sekadar duduk di tepi kolam, merasakan suhu air, dan mengatur napas.

    Proses pengenalan ulang itulah yang menjadi titik balikku. Di kedalaman yang sama yang pernah mengancam nyawaku, aku justru menemukan diriku yang sebenarnya. Aku dipaksa berdialog dengan ketakutanku. Apa yang sebenarnya kutakuti? Perlahan, melalui instruksi pelatih untuk sekadar mengapung santai, aku menemukan jawabannya. Pada hari aku tenggelam dulu, aku kalah karena aku panik dan meronta. Aku mencoba melawan dan menaklukkan air.

    Di sanalah air memberiku tamparan keras sekaligus pelajaran filosofis yang berharga. Ia tidak pernah menuntut untuk dilawan; ia hanya memintaku untuk menari mengikuti alirannya. Saat aku berhenti meronta, merilekskan otot, dan membiarkan air menopang tubuhku, keajaiban terjadi. Di bawah permukaan air, kecemasan dunia seketika membeku, berganti menjadi keheningan yang memelukku erat. Rasanya hanya ada aku dan semesta yang damai. Aku sadar, dalam hidup, kita tidak bisa selalu keras kepala melawan arus tantangan yang tak bisa kita kendalikan. Terkadang, kekuatan dan ketahanan terbesar kita justru lahir saat kita berserah, tetap tenang, dan membiarkan diri kita mengapung melewati badai.

    Pemahaman itu mematahkan belenggu trauma di kepalaku. Air yang dulu mencekik, perlahan bertransformasi menjadi sahabat dan ruang amanku. Bertahun-tahun kemudian, anak yang dulu gemetar melihat kolam ini memutuskan untuk bergabung dengan organisasi pecinta alam, Stapala. Aku bahkan berani memburu tantangan di arus sungai yang tak tertebak. Hantaman jeram liar dalam Olahraga Arus Deras (ORAD) tak lagi memicu kepanikan masa kecilku. Sebaliknya, ia memompa adrenalin yang meledak riang bagai kembang api di dalam nadiku. Arus yang bergejolak itu bukan lagi ancaman, melainkan arena perayaan bahwa aku telah berhasil menaklukkan batas pikiranku sendiri.

    Kini, hamparan biru di peta tak lagi membuatku gentar. Lautan, danau, dan sungai di seluruh pelosok Nusantara seolah menjelma menjadi kawan-kawan lama yang merentangkan tangannya, menanti untuk diselami. Mimpiku kini satu, yaitu mengelilingi Indonesia dan mencumbu keindahan perairannya dari ujung ke ujung. Dari sebuah pengalaman yang nyaris merenggut nyawa, aku memetik satu pelajaran hidup yang tak ternilai. Bahwa sebuah keberanian sejati bukanlah tentang hidup tanpa rasa takut, melainkan keberanian untuk menyelami ketakutan itu sendiri, hingga ia luruh dan berubah menjadi kekuatan untuk mengarungi luasnya lautan kehidupan.


No comments:

Post a Comment

Back to Top

Cari Artikel