oleh: Kukuh Firman Nurandika
Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Everything_Is_F*cked
Jam sebelas malam. Laptop terbuka, di satu sisi ada materi kuliah yang belum disentuh, di sisi lain ada obrolan kepanitiaan yang meminta konfirmasi, dan ada tugas kelompok yang tinggal aku yang belum mengerjakan. Namun, aku justru memilih scroll TikTok, tertawa-tawa sendiri, dan pura-pura tidak melihat semua itu.
Selesai scroll, muncul perasaan yang sudah terlalu familiar. "Ah, kenapa aku tidak disiplin sekali, sih?" Seketika itu juga aku membuka catatan, menuangkan semua pikiran negatif itu menjadi tulisan, membuat to-do list, dan memasang target-target kecil agar kelihatan mudah dikerjakan. Semuanya terasa produktif — sampai keesokan harinya siklus yang sama berulang, dan hasilnya? Sama saja.
Sampai aku membaca buku ini.
Everything Is F*cked karya Mark Manson. Orang yang sama yang menulis The Subtle Art of Not Giving a F*ck. Ini bukan buku motivasi biasa yang gemar memberikan afirmasi positif atau sejenisnya. Alih-alih begitu, Manson justru secara gamblang membongkar alasan mengapa usaha kita untuk menjadi lebih baik sering berakhir di tempat yang sama. Bukan karena kita tidak mau berubah — tetapi bisa jadi karena kita keliru memahami cara kerja diri kita sendiri.
Yang paling membuatku tersadar ada di Bab 2, Self-Control Is an Illusion. Manson memperkenalkan dua penumpang di dalam kepala kita: Thinking Brain (Otak Berpikir) dan Feeling Brain (Otak Perasa). Selama ini kita mengasumsikan bahwa si Thinking Brain-lah yang menyetir — yang membuat keputusan rasional dan tahu apa yang harus dilakukan. Sementara itu, Feeling Brain hanyalah penumpang cerewet yang sesekali mengganggu.
Ternyata? Justru sebaliknya.
Feeling Brain-lah yang memegang kemudi. Thinking Brain hanyalah navigator — punya peta, punya saran — tetapi tidak pernah bisa memaksa mobil berbelok jika pengemudinya tidak mau. Seperti kata Manson, Thinking Brain itu adalah "the supporting character who imagines herself to be the hero."
Itulah mengapa kita tahu harus belajar, tetapi tidak belajar. Bukan karena tidak tahu caranya, melainkan karena kita tidak merasa mau melakukannya.
Di sinilah aku mulai berpikir dengan cara yang berbeda tentang diriku sebagai mahasiswa.
Setiap kali sesuatu tidak berjalan sesuai rencana — IPK turun, SKPM sedikit, nilai tidak sesuai ekspektasi — ujungnya selalu sama, menyalahkan diri sendiri. Solusinya pun selalu menambah. jadwal baru yang lebih padat, target yang lebih tinggi, tekad untuk lebih disiplin lagi.
Namun, yang tidak pernah aku tanyakan kepada diri sendiri adalah: bagaimana perasaanku?
Seberapa sering aku merasa lelah, tetapi tetap memaksakan diri karena malu berkata "aku capek"? Seberapa sering aku cemas soal masa depan, tetapi mengubur itu dengan logika "nanti juga beres"? Feeling Brain-ku sudah lama berteriak meminta didengar, dan aku terus menyuruhnya diam sambil menumpuk to-do list baru di atasnya.
Pantas saja mobilnya tidak mau berjalan.
Aku tidak bilang buku ini memiliki semua jawaban. Namun, satu hal yang berubah setelah membacanya: aku berhenti menghakimi diriku sebagai "orang yang kurang disiplin" dan mulai bertanya lebih jujur — ada perasaan apa yang sedang aku hindari?
Memperbaiki diri bukan soal menambah satu lagi kebiasaan produktif ke dalam rutinitas. Kadang, itu soal duduk sebentar, mengakui bahwa kamu lelah, dan belajar bernegosiasi dengan perasaanmu sendiri, bukan melawannya.
Karena jika Feeling Brain-mu tidak ikut setuju, perjalanannya tidak akan ke mana-mana.
No comments:
Post a Comment