menu melayang

Senin, 09 Desember 2019

Mimbar Bebas Paslon Presma Wapresma : Nyalakan Jati Diri Mahasiswa Keuangan Negara


Rangkaian acara Mimbar Bebas dan Debat Publik Pemira untuk Jurusan telah dilaksanakan. Kini giliran Lukman Nulhakim dan Ardiansyah Dwi Prasetyo tampil di depan umum memaparkan visi dan misinya dalam Mimbar Bebas, Jumat (06/12/2019) pukul 16.00 di Bendungan. Melalui #NyalakanKarya, Lukman – Ardi siap menyalakan jati diri mahasiswa keuangan Negara untuk menciptakan karya-karya bagi kampus dan berkontribusi untuk Negara.

Untuk mewujudkan hal tersebut, pasangan calon (paslon) tunggal itu menekankan beberapa poin penting, antara lain pengembangan SDM secara tersruktur, membentuk simpul kolaborasi antara BEM KM PKN STAN, mahasiswa, dan lembaga serta menjadikan setiap acara di kampus tidak hanya terselenggara namun juga memiliki value dan bermanfaat.

Poin tersebut mereka rangkum dalam visi dan misi untuk satu periode kepengurusan ke depan. Visi dan misi tersebut didukung program kerja yang telah mereka buat, antara lain Kaderisasi Internal (KANAL), Forum Pendidikan dan Pelatihan Kemahasiswaan (DIALETIKA), Kajian Kawalan Isu Strategis, Forum Kolaborasi dan Advokasi (FRAKSI), BASIS, serta penggunaan Manajemen Risiko dan Cost Benefit Analysis.

Poin tersebut mereka rangkum dalam visi dan misi untuk satu periode kepengurusan ke depan. Visi dan misi tersebut didukung program kerja yang telah mereka buat, antara lain Kaderisasi Internal (KANAL), Forum Pendidikan dan Pelatihan Kemahasiswaan (DIALETIKA), Kajian Kawalan Isu Strategis, Forum Kolaborasi dan Advokasi (FRAKSI), BASIS, serta penggunaan Manajemen Risiko dan Cost Benefit Analysis.

Berlanjut ke sesi tanya jawab, pasangan calon dihadapkan dengan tiga pertanyaan dari audiens. Dalam menjawab pertanyaan tersebut, Lukman – Ardi memaparkan program kerja mereka sebagai solusi pertanyaan tersebut. Kemudian, Muhammad Khatami, salah satu panitia Pemira menanyakan apa tanggapan mereka mengenai program dari BEM KM yang dianggap hanya menyesuaikan kebutuhan mahasiswa namun tidak sesuai dengan keinginan mahasiswa.

Lukman mengatakan bahwa hal itu terjadi karena terjadi disparitas informasi di mana BEM tidak mengetahui apa yang diinginkan oleh mahasiswa sehingga kuncinya adalah informasi. Oleh karena itu, Lukman – Ardi berencana untuk melakukan interaksi sebanyak mungkin dengan mahasiswa untuk menampung aspirasi mahasiswa. Ardi menambahkan adanya disparitas antara kebutuhan dan keinginan juga menjadi penyebab masalah tersebut. Solusinya adalah mengemas suatu kegiatan yang dapat mengolaborasikan antara kebutuhan dan keinginan.

Terakhir, acara Mimbar Bebas ditutup dengan closing statement dari paslon, “Pemira merupakan ajang politik paling besar di kampus kita, maka jadikan ajang ini sebagai pembelajaran. Maka disini kami hadir dengan berslogankan panjang umur perjuangan, mengapa? Karena nafas perjuangan kami selalu berlandaskan pada ketulusan untuk berkontribusi bahwa setiap kebaikan-kebaikan yang kita bangun ikhlas untuk membangun kampus ini menjadi lebih baik. Untuk itu teman-teman, bagi kami tidak ada alasan untuk tidak berkontribusi dalam kegiatan Pemira ini. Mari teman-teman kita berpikir jernih, menggunakan kepintaran untuk membangun kampus mahasiswa keuangan negara yang berdaya.” tandas Lukman.

Kemudian Ardiansyah menambahkan, “Jika ada 1000 orang yang memperjuangkan kebaikan, pastikan aku satu diantaranya. Jika ada 100 orang yang memperjuangkan kebaikan, pastikan aku juga satu diantaranya. Jika hanya ada 10 orang yang memperjuangkan kebaikan, masih tetap pastikan aku satu diantaranya. Jika hanya ada 1 orang, maka pastikan dan saksikan itu adalah aku. Karena kebenaran akan selalu ada.”


Kontributor : Dhimas Mega, Dwi Ardi, Khusna Fahrani, Nina Santun, Naufal Budi

Blog Post

Related Post

Back to Top

Cari Artikel