menu melayang

Kamis, 05 Desember 2019

PEMIRA 2019 : Debat Publik Calon Ketua dan Wakil Ketua KMP




              Debat publik antar pasangan calon (paslon) ketua dan wakil ketua Keluarga Mahasiswa Pajak (KMP) sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Pemira 2019 telah dilaksanakan pada 2 Desember lalu di Plasma PKN STAN dengan menghadirkan dua panelis yaitu Kepala Prodi D III Pajak, Rachmad Utomo dan Anggit Kuncoro Aji selaku Ketua KMP periode 2018/2019. Acara yang dimulai pada pukul 19.00 WIB tersebut diawali dengan pemaparan visi dan misi dari masing masing pasangan calon dan dibagi menjadi tiga sesi tanya jawab yaitu dengan panelis, antar pasangan calon, dan dengan audiens yang hadir.

Beberapa pertanyaan penting yang diajukan oleh panelis kepada paslon salah satunya yaitu mengenai bagaimana langkah optimalisasi dan efisiensi terhadap program yang telah ada sebelumnya, ekspansi KMP serta cara mensinergikan program-program KMP.

Menanggapi pertanyaan tersebut, paslon nomor urut 2, Alifan Bayu Mandanggoro dan M. Alkhilal Ramadhoni, menawarkan salah satu program unggulan mereka yang bertajuk  Sinergi Kejayaan. Program ini merupakan lanjutan program terdahulu yang telah dibangun dan akan digalakkan lagi agar KMP lebih sesuai dengan apa yang diharapkan mahasiswa jurusan Pajak. Untuk ekspansi, paslon 2 telah melakukan sinergi dengan PUSPA (Pusat Studi Perpajakan) dalam hal penyelenggaraan Pekan Raya Perpajakan Nasional (PRPN) yang dalam rencananya akan diselenggarakan bertaraf internasional melalui kerja sama dengan Universitas Queensland Australia. Sedangkan untuk efisiensi, paslon 2 menawarkan program kerja berupa rapat koordinasi antara KMP dengan angkatan sebagai bentuk sinergi serta berfungsi sebagai tempat untuk menampung aspirasi antar angkatan yang nantinya dapat diwujudkan menjadi program yang diinginkan oleh mahasiswa Pajak.

Lain halnya dengan jawaban dari paslon nomor urut 1, Muhammad Rizky Ramadhan dan Akbar Anugerah Pratama. Terkait ekspansi, mereka memiliki rencana untuk menyelaraskan dengan visi prodi D III Pajak. Dengan harapan KMP dapat menjadi pusat studi mahasiswa perpajakan di seluruh Indonesia melalui program-program eksternal yang akan lebih difokuskan terutama pada forum IPSA dan pembahasan isu perpajakan internasional seperti melalui seminar internasional PRPN.
Dalam debat ini juga muncul isu mengenai sikap intoleran terhadap perbedaan dan keberagaman yang sempat dituduhkan kepada mahasiswa PKN STAN. Kedua paslon memiliki cara yang berbeda dalam mengatasi isu tersebut. Paslon 2 berpendapat bahwa media sosial dapat digunakan sebagai salah satu senjata utama untuk memerangi isu tersebut. Selain itu, website KMP dapat dimanfaatkan untuk menunjukkan kepada kampus lain seperti apa KMP sebenarnya.

Sedangkan dari paslon 1 lebih memilih mengatasinya dengan program atau kegiatan yang mengedepankan toleransi dan mengesampingkan radikalisme yang diiringi dengan publikasi secara masif dan intensif. Publikasi ini menjadi bukti bahwa program tersebut efektif dan mampu memberikan efek nyata dan positif terhadap mahasiswa jurusan Pajak sekaligus memberikan gambaran kepada pihak luar tentang bagaimana kampus PKN STAN. Selain itu, acara sosial dan kemasyarakatan yang telah digagas oleh KMP secara efisien dan terpadu, seperti KMP Social Project, akan lebih dimasifkan lagi publikasinya untuk menunjukkan pada masyarakat bahwa PKN STAN juga bisa.

Salah satu daya tarik para paslon tentunya adalah program kerja yang ditawarkan. Mengenai hal tersebut, Rachmad Utomo menanyakan kepada masing-masing paslon mengenai program apa yang sudah ada dan akan ada di tahun 2020. Paslon 1 menawarkan program Tax Development Center yang berfokus pada pengembangan softskill dan employement. Selain itu mereka juga ingin program yang menanamkan nilai-nilai terutama nilai Kementerian Keuangan, nilai toleransi dan nilai lainnya.

Sedangkan paslon 2 mengedepankan arti penting social value yang merupakan nilai yang lebih besar dari AD/ART ataupun program-programnya. Untuk rincian program masih belum ditentukan karena perlu didiskusikan dengan pihak-pihak terkait, namun penanaman nilai akan ditanamkan mulai dari nilai-nilai sederhana. Selain itu, melalui program sosial yaitu Kembang dan Bangkitkan Desa, KMP akan memiliki desa binaan dan akan membina masyarakat serta membantu pencatatan WKM.

                Masih terkait program kerja yang diusung, Anggit memberikan pertanyaan pamungkas mengenai langkah nyata apa yang akan dilakukan para paslon terhadap program yang telah disebutkan serta cara agar seluruh mahasiswa Pajak benar-benar tahu dan paham atas keinginan paslon. Menanggapi pertanyaan tersebut, paslon 2 mengungkapkan bahwa  poin penting mereka adalah interaksi dengan mahasiswa layaknya pengguna akun instagram yang interaktif terhadap follower-nya. Ini adalah upaya untuk meningkatkan engagement terhadap program-program KMP sehingga bisa dinikmati oleh seluruh mahasiswa jurusan Pajak.

Sedangkan menurut paslon 1, mereka ingin menggunakan media sosial untuk menampung segala referensi dari mahasiswa dan mencari jalan tengah. Mereka akan mencari grand design  seperti apa yang benar-benar cocok untuk mahasiswa reguler dan alih program. Sedangkan langkah nyata dimulai dari diskusi-diskusi kecil dan adanya rapat koordinasi antara seluruh mahasiswa jurusan pajak.

Sesi pertama berakhir kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab antar paslon yang berfokus pada bagaimana komitmen dan kinerja program kerja masing-masing lawannya. Setelah sesi kedua usai, sesi selanjutnya adalah tanya jawab dengan audiens yang hadir. Salah satu pertanyaan yang diajukan adalah apakah penerbitan simultax plus tiap dua sampai tiga minggu sekali lebih mementingkan process control atau output dari simultax plus. Paslon 1 menjawab bahwa proker paslon 2 yang menerbitkan simultax plus tiap 2-3 minggu akan menghasilkan output yang kurang berkualitas karena akan mengganggu kehidupan perkuliahan pembuat simultax yang berdampak pada output yang tidak maksimal. Menanggapi hal tersebut, paslon 2 memberikan tanggapan bahwa mereka akan menyeimbangkan proses dan output yang sejalan.

Mengakhiri rangkaian acara, debat publik ditutup dengan closing statement dan pesan dari masing-masing paslon.

“Keluarga Mahasiswa Pajak merupakan seluruh mahasiswa jurusan pajak, yaitu kita semua. Maka dari itu teman-teman, kita harus saling membantu satu sama lain, saling koordinasi dan sharing, melontarkan aspirasi kita masing-masing untuk mengetahui kebutuhan apa yang kita butuhkan yang insya Allah akan difasilitasi oleh Keluarga Mahasiswa Pajak. Kita di sini sebagai fasilitator, himpunan yang menghimpun aspirasi teman-teman yang akan diwujudkan dalam program-program yang akan mengatasi keresahan, mengembangkan minat dan bakat teman-teman. Oleh karena itu kita di sini adalah satu, bersama, mari satukan suara kita demi Pajak Satu Jiwa,” tutup paslon 1.

“Kita sebagai mahasiswa-mahasiswi jurusan Pajak, sebagai keluarga, membutuhkan rumah yang nyaman dan menyediakan fasilitas yang dibutuhkan. Kami sebagai pasangan calon nomor dua ingin menghadirkan KMP PKN STAN sebagai rumah yang dibutuhkan mahasiswa-mahasiswi jurusan Pajak. Kami membuka aspirasi teman-teman mulai saat ini. Saat ini teman-teman bisa menyampaikan aspirasinya di instagram kami, @milikkitabersama_ .Kami terbuka dengan teman-teman semua, jika ada program yang ingin disampaikan atau diusulkan untuk KMP kedepannya,” tambah paslon 2.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Back to Top

Cari Artikel