menu melayang

Friday, July 10, 2026

87.9 FM

 Ni Wayan Putri Ratna Dewati



“87.9 FM Pelita Radio, bersama Jingga yang akan menemani malammu sampai pukul dua belas.”

Suara penyiar radio menggema di kamar Surya. Di depannya, lembar soal Latihan OSN Fisika terbuka lebar. Namun sejak sore, banyak soal masih kosong. Perlombaan tinggal dua minggu lagi, sementara semangatnya terasa menghilang.

“Lagu kali ini adalah request dari Ayu, tapi sebelum diputar, ada pesan nih.”

“Setiap orang dilahirkan pasti dengan tujuan, bahkan untuk menanggung kesialan sekalipun. Jadi, istirahatlah, lalu kembali marah pada dunia.”

Surya terdiam. Kalimat itu masih terngiang ketika suara dari depan rumah memecah keheningan 

“Assalamualaikum.”

Suara itu membuat Surya menoleh. Bapak baru pulang kerja dengan membawa dua bungkus pecel lele. Namun, ternyata dibelakangnya sudah ada pria tinggi dengan maksud yang sudah bapak ketahui, “Ini dua juta. Coba dihitung dulu, Han.”

Pria itu mengangguk pelan puas sebelum akhirnya pergi “Sisanya bulan depan, ya. Jangan sampai telat” 

“Utang berobat Ibu kemarin, Pak?” tanya Surya pelan.

“Sudah, nggak usah dipikirin. Ayo makan.”

Surya hanya bisa mengangguk tanpa memanjangkan pembicaraan.

Bapak adalah tukang dengan penghasilan yang tidak menentu. Sejak ibu meninggal, utang biaya berobatnya menjadi beban hingga sekarang. Bahkan motor satu-satunya telah dijual untuk itu.

“Lombamu kapan, Sur?” tanya bapak disela-sela suapan nasinya.

“Dua minggu lagi, Pak. Besok Surya mau ke perpustakaan. Mau nyari buku.”

Bapak mengangguk pelan, “Semangat, yaa. Jangan mikirin yang lain. Kalau ada yang perlu dibeli, kasih tau Bapak.”

Setelah makan selesai, Surya kembali ke kamarnya. Ia menatap soal yang belum terjawab. Untuk sesaat ia ingin menutup buku dan tidur tapi pesan di radio tadi masih berdengung di kepalanya. Perlahan Surya menarik selembar kertas dan menuliskan materi-materi yang harus dipelajari besok agar tidak ada waktu yang terbuang.

***


Sumber : Pinterest (https://pin.it/260DwMJpb)


Keesokan paginya, Surya benar berangkat ke perpustakaan. Begitu juga dengan hari-hari berikutnya. Dari rak ke rak, ia mencari buku yang dapat membantunya. Ia menghabiskan berjam-jam membaca, mencatat, lalu mengerjakan latihan soal. Tidak jarang jawabannya salah. Beberapa kali ia harus membuka buku yang sama hanya untuk memahami satu konsep. 

Perlahan catatannya semakin tebal dan soal yang dulu hanya mampu ia pandangi kini dapat diselesaikan. Tidak semuanya benar, tetapi setidaknya ia terus bergerak.

Dua minggu kemudian, hari yang ditunggu tiba. Surya duduk di ruangan bersama puluhan peserta lain. Tangannya dingin saat waktu untuk mengerjakan soal akan dimulai. Untuk sesaat ia menatap soal pertama tanpa bergerak. Lalu ia menarik napas panjang. Ia pernah menghadapi soal yang lebih sulit di perpustakaan dan pulang dengan kepala penuh kebingungan. Karena itu, apapun yang terjadi, ia percaya memang itulah hasilnya.

Perlahan, pulpen di tangannya mulai bergerak. Hingga tanpa terasa waktu ujian berakhir.

***

Beberapa minggu setelahnya, Surya yang sedang membantu Bapak merapikan peralatan kerja di teras rumah ketika ponselnya bergetar.

Pengumuman hasil OSN akhirnya keluar.

“Pak, bentar ya.”

Surya membuka laman pengumumannya dengan jantung yang berdegup cepat. Deretan nama memenuhi layar ponselnya. Ia menggulirkan layar perlahan hingga matanya terpaku pada satu nama.

Lentera Suryana.

Ia hanya menatap layar itu tanpa bergerak. Takut kalau ternyata salah baca.

“Pak...”

Bapak yang sedang membereskan ember di sampingnya menoleh. 

“Aku menang, Pak.” Surya dengan cepat menunjukkan layar ponselnya.

Lelaki itu membaca nama yang tertera di sana, lalu menepuk bahu anaknya pelan, “Bapak bangga sama kamu.”

Kalimat sederhana itu terasa sangat hangat. Dengan senyum menghiasi wajah Bapak. Air mata haru tida bisa Surya bendung. Rasa Bahagia itu tidak berakhir disana, beberapa minggu kemudian, sertifikat dan uang pembinaan akhirnya tiba. Tanpa ragu, Surya menyerahkannya kepada Bapak.

“Ini buat Bapak.” Kata Surya dengan tangan menyodorkan sejumlah uang yang sebelumnya sudah ia carikan dari Bank.

“Kenapa? Ini hasil kerja kerasmu, Sur”

“Kalau bukan karena Bapak, Aku nggak akan dapetin ini. Jadi, biarin aku bantu Bapak sedikit, ya?”

Bapak tersenyum, meski mata tuanya tampak berkaca-kaca. “Terima kasih ya, Nak…”

***

Malam kembali datang.

Radio di kamarnya memutar lagu seperti biasa. Di sudut meja, sertifikat dan medali tergeletak rapi di samping tumpukan catatan yang dulu menemaninya.

Surya akhirnya mengerti bahwa pendidikan tidak selalu mengubah hidup seseorang dalam semalam. Namun setiap halaman yang dibaca, setiap soal yang dicoba, dan setiap kegagalan yang dihadapi tanpa menyerah akan membawa seseorang selangkah lebih dekat menuju masa depan yang ia impikan.

“87.9 FM Pelita Radio, bersama Jingga yang akan menemanimu sampai pukul dua belas malam. Lagu pembuka kita datang dari pendengar setia kita, Ayu dan ada pesannya juga nih.”

Jingga berdeham pelan sebelum mulai membaca.

“Untuk kamu yang sedang berjuang dan mungkin belum berhasil atau usahamu belum terlihat. Percayalah, tidak ada langkah yang diambil atau air mata yang sia-sia. Tetaplah berjalan dan raih tujuanmu.”

Suara itu membawa kembali ingatannya pada malam ketika ia hampir menyerah. Malam ketika sebuah pesan dari orang asing membuatnya memilih membuka buku sekali lagi.

Surya menoleh ke arah medali yang tergeletak di meja dengan sudut bibir terangkat pelan.

“Makasih,” Entah ditujukan kepada Ayu, kepada Jingga, atau kepada dirinya sendiri yang memilih bertahan malam itu.


No comments:

Post a Comment

Back to Top

Cari Artikel