Kukuh Firman Nurandika
Sumber: Gramedia digital
Aku tidak tahu apakah ada buku yang lebih gila daripada bukunya Tara Westover berjudul Educated. Buku ini berisi kisah nyata, perjalanan hidup penulis, yang bisa jadi sangat dekat sepanjang nilainya dengan kehidupan kita. Bukan karena perjalanan hidupnya yang luar biasa, tetapi perasaan tertampar ketika membacanya. Seolah-olah penulis menceritakan kisahnya sendiri kepada kita sambil mengajak kita untuk berpikir dan menanyakan secara diam-diam, “seberapa jauh suara orang-orang terdekat kita telah ikut mendefinisikan siapa kita?”.
Tara dibesarkan di Pegunungan Idaho, dalam keluarga yang tidak percaya sekolah, dokter, maupun pemerintah. Ayahnya membangun dunia yang begitu kokoh, sampai Tara nyaris tidak pernah tahu ada dunia lain di luar sana, dan tidak pernah menginjakkan kaki di ruang kelas sampai usianya tujuh belas tahun. Tetapi, ada satu hal yang tidak bisa dikendalikan siapa pun dari dalam dirinya, yaitu rasa ingin tahu. Dari rasa ingin tahu itulah, mengikuti jejak kakaknya, Tyler, yang lebih dulu berani meninggalkan rumahnya untuk kuliah, Tara belajar sendiri, diam-diam, mempersiapkan ujian masuk perkuliahan, di tengah ayahnya yang menyebut perguruan tinggi sebagai tempat pencucian otak manusia.
Di ruang kelas itulah dunianya benar-benar terbuka. Ia mulai mempertanyakan narasi yang selama ini ditelannya mentah-mentah sebagai kebenaran, hingga beasiswa membawanya ke Cambridge, lalu Harvard, dan akhirnya mendapat gelar PhD di Cambridge pada 2014, dari anak perempuan yang tidak punya satu pun catatan sekolah. Tetapi semua itu ada harganya. Semakin jauh ia melangkah, semakin besar jarak yang terbentuk dengan keluarganya, dan ia harus menghadapi pilihan berat antara tetap tinggal di "rumah" yang dikenalnya, atau terus berjalan menjadi dirinya sendiri.
Terdapat tiga pelajaran yang setidaknya bisa dipetik dalam buku ini.
Pertama, rasa ingin tahu adalah bentuk keberanian yang paling sederhana. Kita selalu mengira bahwa berani itu identik dengan suatu hal yang besar dan dramatis. Padahal, tidak. Dan rasa ingin tahu menjadi bentuk berani yang paling sederhana dan rendah hati. Ia tidak dipaksa. Tetapi datang perlahan dengan pertanyaan “Memangnya bisa ya?”. Tetapi sayangnya kita berhenti melanjutkan, karena takut dianggap tidak tahu diri, atau merasa nyaman dengan narasi yang selama ini diberikan kepada kita dan telah kita yakini. Padahal itu bisa jadi awal dari segalanya.
Kedua, kita lebih sering hidup dari suara orang lain daripada yang kita sadari. Suara orang tua yang menyarankan jurusan perkuliahan, atau suara guru yang memuji tanpa tahu sebenarnya potensi diri kita. Kita menelan mentah-mentah dan hidup dari suara tersebut. Takut rasanya jika membantah. Takut rasanya jika mencoba hal baru. Hidup rasanya dibayang-bayangi oleh suara orang lain. Buku ini mengingatkan bahwa di tengah kebisingan suara itu, mengenali suara diri sendiri adalah hal yang penting dalam hidup.
Ketiga, pendidikan adalah proses kreasi diri. Dari sanalah Tara menyadari dunia tidak sekadar hitam dan putih, melainkan penuh dinamika warna, dan ia berani mempertanyakan segala perspektif yang ditanamkan keluarganya. Kemandirian berpikir itulah kemerdekaan sesungguhnya, kebebasan untuk berpikir, bertindak, dan menjadi diri sendiri.
Kisah Tara bukan tentang betapa luar biasanya dia. Tetapi tentang betapa mungkinnya semua itu, bagi siapa pun yang mau mulai bertanya, mau mulai mendengarkan dirinya sendiri, dan mau percaya bahwa pendidikan bisa jadi cara kita pulang ke diri sendiri.
No comments:
Post a Comment