I Dewa Putu Sanjaya Ditha
Sapiens karya Yuval Noah Harari. Sumber: Pinterest
Ada pertanyaan yang jarang kita ajukan ketika belajar sejarah: siapa yang membayar harga dari setiap "kemajuan" manusia? Yuval Noah Harari, dalam Sapiens: A Brief History of Humankind, mencoba menjawabnya. Hasilnya mengejutkan, bahkan sedikit menyakitkan untuk dibaca.
Harari menyebut ada tiga gelombang kepunahan besar yang dipicu oleh manusia. Bukan oleh meteor. Bukan oleh perubahan iklim jutaan tahun lalu, tetapi oleh kita, Homo sapiens, dalam berbagai tahap peradaban kita.
Gelombang pertama terjadi setelah manusia modern mulai menyebar keluar dari Afrika. Saat itu, manusia baru saja mengembangkan kemampuan berpikir yang jauh lebih canggih, yaitu saat bisa berbicara dalam bahasa yang rumit, bisa bekerja sama dalam kelompok besar, bisa merencanakan perburuan jauh sebelum mangsa terlihat. Kemampuan baru ini membuat manusia menjadi pemburu yang sangat efektif, terlalu efektif. Ketika manusia tiba di Australia, sekitar 90% hewan besar di sana punah dalam waktu yang relatif singkat. Hal serupa terjadi di Amerika. Bukan karena bencana alam, tetapi karena manusia berburu lebih cepat dari kemampuan hewan-hewan itu untuk berkembang biak.
Gelombang kedua datang setelah Revolusi Agrikultur, sekitar 10.000 tahun lalu. Kita biasa menganggap pertanian sebagai langkah maju yang besar. Namun, Harari menunjukkan sisi lain yang jarang diceritakan, yaitu kehidupan sebagai petani ternyata lebih berat dari kehidupan pemburu-pengumpul sebelumnya. Mereka makan lebih sedikit jenis makanan, lebih mudah sakit, dan bekerja lebih keras setiap harinya. Di sisi lain, gelombang petani yang menyebar ke pulau-pulau kecil membawa kehancuran bagi fauna lokal yang tidak siap menghadapi ancaman baru. Bahkan gandum pun, kata Harari, tidak benar-benar "dijinakkan" oleh manusia, tetapi justru manusialah yang berubah hidupnya demi melayani tanaman itu. Hari ini, lahan gandum dunia mencapai 2,25 juta km², sekitar sepuluh kali luas Inggris. Gandum menang, tetapi apakah manusia juga menang?
Gelombang ketiga sedang terjadi sekarang. Polusi industri perlahan meracuni lautan. Paus, hiu, lumba-lumba, yaitu makhluk yang sudah ada jauh sebelum manusia muncul di bumi, kini terancam punah. Bukan karena mereka kalah bersaing, tetapi karena kita mengubah rumah mereka menjadi tempat pembuangan limbah. Harari tidak menuliskan ini sebagai fiksi ilmiah. Ia menuliskannya sebagai kemungkinan nyata yang sedang berjalan.
Lalu apa relevansinya bagi kita sebagai mahasiswa yang belajar kebijakan dan keuangan publik? Justru di sinilah mengapa Sapiens menjadi sangat relevan. Setiap keputusan pembangunan yang kita pelajari, seperti pengelolaan aset, anggaran negara, kebijakan fiskal, selalu punya dua sisi, yaitu apa yang kita dapatkan, dan apa yang kita korbankan. Sapiens mengingatkan bahwa sepanjang sejarah, manusia sering terlalu fokus pada sisi pertama dan mengabaikan sisi kedua. Pertanyaannya bukan hanya "apakah kebijakan ini efisien?”, tetapi juga siapa yang menanggung biayanya, dan apakah mereka punya suara untuk protes?
Sapiens bukan buku yang memberikan jawaban. Ia adalah refleksi masa lalu bahwa History Repeat. Sapiens adalah buku yang memaksa kita mengajukan pertanyaan yang lebih jujur. Dan mungkin itu justru yang paling kita butuhkan sebelum membuat keputusan apa pun.
No comments:
Post a Comment