Oleh: Siti Ulin Najah
Sumber: news.detik.com
Pernahkah kau mendengar sebuah kisah tentang anak yang selalu tersenyum? Bahkan ketika seluruh dunia tidak membiarkannya untuk mengenal apa itu kebahagiaan? Senyum yang merekah di wajah kecilnya sangatlah manis hingga membuatku bertanya-tanya.
“Apa yang membuat senyum selalu terlukis di wajah anak manis itu?”
Sebuah pertanyaan sederhana itu membawaku kemari untuk menceritakan kisah yang datang dari seorang anak perempuan yang tinggal di kolong Jembatan Asa. Jembatan itu menjadi tempat bagi mereka yang kurang beruntung untuk merebahkan lelahnya mencari nafkah dan kembali bangun di esok hari untuk menyambung hidup. Ini adalah kisah mengenai perjuangan anak itu untuk bisa meneguk cawan ilmu di tengah kejamnya lukisan takdir yang menghantamnya.
“Kring…,” bunyi bel sepedaku menyatu dengan hiruk pikuknya pagi yang sibuk ini. Dengan mengayuh sepeda merahku, aku pun berangkat menuju kampus. Setelah menyusuri jalan di gang kecil, kini aku berada di Jalan Pasar Baharu yang selalu kulalui tiap pagi. Di sebelah Pasar Baharu, menjulang tinggi Jembatan Asa yang terkenal di kalangan penduduk. Di pinggir jembatan itu, berdiri seorang gadis cilik berpakaian lusuh yang sering kulihat tiap kali melewati jalan ini.
Sudah hampir setahun lamanya aku melihatnya melakukan hal yang sama persis setiap pagi, tersenyum sembari melukiskan sesuatu di atas tanah memakai ranting kecil di pinggir jembatan. Pernah suatu kali aku mendekatinya. Namun, ia malah terkejut dan langsung berlari. Pagi ini, karena masih ada waktu sebelum kuliah dimulai, aku menepikan sepeda merahku di pinggir jalan dan mencoba berbicara lagi dengan anak itu. Tak seperti sebelumnya, kali ini ia tak berlari menjauh, tetapi pandangannya tetap merasa was-was kepadaku.
“Hai, Siapa namamu, Dik?” ucapku dengan wajah tersenyum.
Dia melihatku dengan tatapan ragu sebelum mulai berbisik.
“E… lin…,” ucapnya dengan suara yang sangat lirih.
Aku menatapnya sambil tersenyum. Ketika aku melihat dengan seksama, terlihat ada huruf abjad tak beraturan yang tertulis di atas tanah yang dipijaknya. Ketika kutanya apa yang sedang dilakukannya, dia hanya membuka mulut, tetapi tak menjawab. Aku pun menebak, sepertinya ia belum lancar berbicara.
Melihat dirinya yang punya semangat belajar di tengah keterbatasan yang ada, membuatku ingin sekali mengajarinya. Setelah kutawarkan padanya, dia tersenyum dan mengangguk dengan lantang dan tanpa ragu. Setelah hari itu, hampir setiap pagi, aku pergi untuk mengajarinya, hingga akhirnya ia sudah lancar berbicara.
Sampai di suatu pagi, ketika aku hendak pergi menemui anak itu, kulihat dari seberang jalan, ia sedang bersama wanita paruh baya. Dari kejauhan, kudengar suara wanita itu membentak Elin.
“Elin! Apa yang kau lakukan? Pergilah bantu ayahmu bekerja! Memangnya kau belajar seperti ini bisa menghasilkan uang?” teriakannya sangat keras hingga terdengar dari tempatku berdiri.
“Itu ibu Elin? Kenapa dia memarahinya?” kataku dalam hati.
Setelah dibentak seperti itu, Elin terlihat ketakutan dan langsung pergi menuju pasar untuk menuruti perintah ibunya. Aku pun berlari mengikutinya. Kutemui ia sedang menangis di pojok sebuah kios kosong. Dengan isakan tangis, ia berkata bahwa memang ini cuma mimpi, tidak mungkin dia bisa belajar dan bersekolah seperti anak-anak lain. Aku hanya bisa terdiam setelah mendengarkannya.
Di dalam hatiku, aku bergumam, “Ternyata di bagian bumi lain masih banyak anak-anak bernasib malang seperti Elin, yang sangat bersusah payah untuk bisa merasakan seteguk ilmu yang berharga.”
Setelah menenangkan Elin, aku kembali dan mencoba berbicara pada ibu Elin. Aku mulai memperkenalkan diriku dan bertanya tentang apa yang sedang terjadi. Dia berkata bahwa keadaan mereka sulit. Lebih baik baginya untuk membantu bekerja daripada belajar. Dia sangat senang belajar, padahal itu tidak membantu karena dia sangat bodoh, bahkan berbicara pun tak pandai.
Dengan perlahan, aku menjelaskan bahwa ia keliru karena Elin adalah anak yang sangat pandai. Ibunya kaget mendengar hal itu karena ia bahkan tak pernah mendengar bagaimana suara anaknya sendiri. Dengan senyuman, aku pun memanggil Elin yang bersembunyi di balik pilar jembatan.
Aku berkata padanya, “Kemarilah, coba bicara dengan ibumu, tak perlu takut.”
Elin datang perlahan dan mulai membuka bibirnya dengan ragu, “I… Ibu… Elin… ingin belajar Bu…”
Terkejutlah ibunya. Aku yakin tidak ada satu pun ibu yang tidak mencintai anaknya di dunia ini. Dan benar, ketika kutatap matanya, terlihat air mata mulai menggenang ketika mendengar kata yang selama ini tak pernah didengarnya. Ternyata dia sudah pandai bicara. Pecahlah tangis ibunya ketika ia menyadari apa yang telah dilakukannya.
Setelah berbicara cukup panjang, akhirnya Elin dan ibunya berbaikan. Ibunya berjanji akan berusaha untuk bisa menyekolahkannya. Mereka berdua pun berpelukan. Baru kali ini kulihat senyum yang secerah itu tersungging di wajah Elin. Aku berpikir, mungkin tidak dalam waktu dekat, tapi aku yakin keadaan akan menjadi lebih baik untuknya.
Dan benar saja, setelah setahun berlalu, kulihat kembali Elin yang sedang tersenyum di pinggir Jembatan Asa. Namun sekarang bedanya, ranting kecil di tangan Elin kini sudah berubah menjadi pensil dan sebuah buku tulis. Dan pakaian lusuhnya pun berganti menjadi seragam sekolah. Huruf-huruf yang dulu ditulisnya di atas tanah menjadi batu pijakan awal untuknya mengepakkan sayap dan meraih cita-cita.
No comments:
Post a Comment