Anak Kecil
Muh. Wira Darmawan
Dari kejauhan tatkala sang surya baru saja menyapa
Anak kecil itu mendayung dengan kapal tua milik ayahnya
Semangat yang berkobar mengeringkan baju dan celana yang basah
Menuntut ilmu di negeri yang pemimpinnya serakah
Dari gedung sekolah sempit yang berdiri di tanah yang subur
Bertumbuh gelisah dari gairah yang terkubur
Dalam nurani anak kecil polos dan jujur
Akankah hidupnya esok selayak penguasa yang Makmur?
Dari jendela kecil tempat mengintip luas cakrawala
Menyerana anak kecil bermata indah
Penuh curiga, entah jadi apa nanti ia ketika dewasa
Dengan sarana dan prasarana yang jauh dari kata istimewa
Dari bangku rapuh, kertas usang dan pena kecil di genggaman tangan
Anak kecil lugu itu mulai menulis masa depan
Senyuman kecil di pipinya seakan jadi rayuan
Hendaknya mimpi dan ambisinya sampai kepada Tuhan
Lirihnya kepada tuan dan puan yang murah hati
Boleh kah kami mendatangi sekolah tanpa harus menantang mati?
Tak pantas kah kami mencicipi manis untuk pendidikan terhormat di negeri sendiri?
Merintih anak kecil itu, memandangi langit kelam menanti datangnya pelangi
Sembari memikul tasnya yang tak layak pakai
Ia pulang dengan sampannya di tepi sungai
Menenteng dayung dan doa-doa damai yang tak kunjung usai
No comments:
Post a Comment