menu melayang

Friday, July 10, 2026

Saku Harapan

 Saku Harapan

Naraya Sabwa Putra



sumber: istock


Di ruang yang dindingnya ditenun oleh halaman-halaman buku,
aku menitipkan asa pada lembar yang kubuka satu demi satu.


Huruf-huruf tumbuh menjadi hutan

Dan aku berjalan di antara rimbunnya pertanyaan

Memungut dedaunan makna yang berguguran

Dari ranting ilmu pengetahuan


Ada hari ketika jawaban terasa mengambang,

laksana kapal tanpa pelabuhan

Mataku tersesat di rimba bilangan

Sementara hatiku bernaung dalam keraguan


Aku pernah menjadi hujan,

yang jatuh di atas kertas ujian

Mengaburkan jawaban yang kutulis perlahan
Lalu membiarkannya hanyut ke muara penyesalan


Aku pernah menyimpan tangis,

di sela halaman yang bergaris

Ku biarkan ia mengering,

menjadi noda pada ingatan yang menguning


Nama-nama berpendar di papan pengumuman
Sedang aku berdiri laksana malam tanpa bulan

Menatap gugusan bintang dari tepi kegelapan



Saat itu kukira aku hanyalah kenari,
dengan sayap yang terlalu kecil bagi langit
Seekor burung yang jatuh berkali-kali,
lalu menganggap tanah sebagai takdir


Namun waktu mengajariku,

dengan bahasa yang tak tertulis di buku

Bahwa paku tak menanancap oleh sekali hentakan

Dan padi tak menguning dalam semalam


Maka kupungut kembali pecahan mimpi itu,

yang tercecer di lorong waktu

Ku simpan serpihan-serpihannya di saku harapan,
dan kubawa berjalan meski langkahku masih gamang


Kini aku mengerti,


bahwa yang lulus dari ruang-ruang kelas adalah mereka,

yang bukan sekadar angka di lembar penilaian

bukan pula nama yang berpendar di papan pengumuman


Mereka adalah yang berkali-kali rebah

Namun memilih untuk kembali melangkah 

No comments:

Post a Comment

Back to Top

Cari Artikel