Saku Harapan
Naraya Sabwa Putra
Di ruang yang dindingnya ditenun oleh halaman-halaman buku,
aku menitipkan asa pada lembar yang kubuka satu demi satu.
Huruf-huruf tumbuh menjadi hutan
Dan aku berjalan di antara rimbunnya pertanyaan
Memungut dedaunan makna yang berguguran
Dari ranting ilmu pengetahuan
Ada hari ketika jawaban terasa mengambang,
laksana kapal tanpa pelabuhan
Mataku tersesat di rimba bilangan
Sementara hatiku bernaung dalam keraguan
Aku pernah menjadi hujan,
yang jatuh di atas kertas ujian
Mengaburkan jawaban yang kutulis perlahan
Lalu membiarkannya hanyut ke muara penyesalan
Aku pernah menyimpan tangis,
di sela halaman yang bergaris
Ku biarkan ia mengering,
menjadi noda pada ingatan yang menguning
Nama-nama berpendar di papan pengumuman
Sedang aku berdiri laksana malam tanpa bulan
Menatap gugusan bintang dari tepi kegelapan
Saat itu kukira aku hanyalah kenari,
dengan sayap yang terlalu kecil bagi langit
Seekor burung yang jatuh berkali-kali,
lalu menganggap tanah sebagai takdir
Namun waktu mengajariku,
dengan bahasa yang tak tertulis di buku
Bahwa paku tak menanancap oleh sekali hentakan
Dan padi tak menguning dalam semalam
Maka kupungut kembali pecahan mimpi itu,
yang tercecer di lorong waktu
Ku simpan serpihan-serpihannya di saku harapan,
dan kubawa berjalan meski langkahku masih gamang
Kini aku mengerti,
bahwa yang lulus dari ruang-ruang kelas adalah mereka,
yang bukan sekadar angka di lembar penilaian
bukan pula nama yang berpendar di papan pengumuman
Mereka adalah yang berkali-kali rebah
Namun memilih untuk kembali melangkah
No comments:
Post a Comment