menu melayang

Jumat, 16 September 2022

Amunisi Tanpa Henti: Keseimbangan, Toleransi, dan Empati

Sumber foto: Dokumentasi Media Center saat pembacaan doa lima agama oleh perwakilan mahasiswa Politeknik Keuangan Negara STAN pada talkshow dari Sabang Merauke, Kamis (15/9).

Tangerang Selatan, Media Center PKN STAN - Dinamika PKN STAN 2022 memasuki hari ketiga dengan acara talkshow dan pengabdian masyarakat, Kamis (15/9). Talkshow ini terdiri dari dua tema, yaitu penyeimbangan kegiatan akademik-nonakademik (alumni) dan toleransi-keberagaman (Sabang Merauke). Topik ini penting karena dapat dijadikan sebagai bekal bagi maba-miba untuk beradaptasi dan bertahan ketika memasuki dunia perkuliahan di PKN STAN, serta saling menghargai dan tenggang rasa antarmahasiswa selama berasrama.

Talkshow terkait penyeimbangan akademik dan nonakademik dengan tema Knowing Priority, Maximising Capacity menghadirkan Fandy Anggara Putra (alumni PKN STAN) dan Heni Kartikawati (Kepala Pusdiklat Keuangan Umum). Beliau menyampaikan bahwa keseimbangan akademik dan nonakademik harus menentukan prioritas dan dijaga betul-betul. Sebisa mungkin mahasiswa ikut organisasi dengan akademiknya tetap bagus karena organisasi tidak hanya menghasilkan ‘orang’, tetapi juga meningkatkan kapasitas diri, seperti yang ditegaskan oleh Kak Fandy Anggara. 

Dok. Pribadi: Talkshow Balancing Academic and Non-academic bersama Kak Fandy dan Bu Heni Kurniawati

“Karena ketika kita punya organisasi yang visinya orang-orang yg punya tingkat akademik bagus, orang-orang yg belum masuk organisasi akan melihat ‘oh, ternyata organisasi itu ga menghasilkan orang’, organisasi itu meningkatkan kapasitas dia.”

Peningkatan kapasitas ini tentunya dengan mengajarkan tiga hal, yaitu cara memposisikan diri, komunikasi, dan mentality. Ketiga hal tersebut akan berguna terus sampai di dunia kerja nanti. Bu Heni Kartikawati menambahkan bahwa orang yang berpengalaman dalam organisasi akan lebih terlatih, “Mentalnya sudah teruji. Kemampuan berpikirnya sudah terlatih. Kemampuan analoginya sudah terlatih, kemampuan memahami masalah yang tidak rutin.”

Oleh karenanya, aktif dalam organisasi tak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga bermanfaat bagi organisasi itu sendiri. Penjelasan kedua narasumber ternyata tidak cukup bagi para maba dan miba. Mereka aktif bertanya untuk mendapat penjelasan yang lebih detail lagi terkait keseimbangan akademik dan nonakademik. Ada dua penanya pada sesi talkshow kali ini, yaitu Arin dari D-IV Akuntansi Sektor Publik dan Insan dari D-IV Majanemen Keuangan Negara.

Dok. Pribadi: Insan menyampaikan pertanyaannya kepada narasumber

Pertanyaan pertama tentang memaksimalkan potensi dan kecenderungan seseorang dalam membatasi diri. Pembatasan diri ini bisa jadi proses negative list apabila penyebabnya adalah ketidaktenangan dalam eksprolasi diri. Apabila pembatasan diri karena omongan orang, perlu dipahami bahwa masih banyak ruang yang bisa dieksplore. Orang lain itu tidak tahu karena yang tahu hanya diri kita. Jadi, jangan sungkan dan terlalu mikir omongan orang. Begitu yang dijelaskan oleh Bu Heni.

Pertanyaan kedua berasal dari Insan mengenai adaptasi seorang yang dulunya fokus di Saintek (sains dan teknologi) kemudian beralih ke Soshum (sosial-humaniora). Dia juga bertanya terkait indeks ketidaksesuaian organisasi. Peralihan dari Saintek ke Soshum ini mirip dengan pengalaman pribadi narasumber, Fandy Anggara Putra. Beliau yang dulunya Saintek perlu waktu satu tahun untuk merasa nyaman dengan akuntansi. Hal itu merupakan proses. “Itu proses yang perlu dijalani untuk memahami hal yang baru,” terang Kak Fandy. Beliau juga menambahkan bahwa yang terpenting adalah pola pikir atas materi akademis.

“Yang paling penting adalah pola pikir kita memahami suatu materi dan proses analisis. Proses dalam kehidupan ini adalah tahapan-tahapan yang harus dilakukan.”

Untuk indeks ketidaksesuaian organisasi sebenarnya berasal dari diri masing-masing. Apakah diri masing-masing merasa perform/ikut andil dalam kegiatan organisasi dan seberapa rutin output yang dihasilkan. Konsistensinya. Itu semua yang dapat mengukur adalah diri sendiri.

Talkshow selanjutnya membawakan tema terkait toleransi dan keberagaman, Sabang Merauke: Negeri Kaya Budaya, Satukan Bangsa Nusantara. Acara bertambah meriah dengan narasumber yang berasal dari pemerintahan dan nonpemerintahan, Kak Khairi Fuady seorang Tenaga Ahli Wakil Menteri Pertanian dan Kak Scholastica Gerintya sebagai Program & Communication Senior Officer Indika Foundation. Dua tokoh muda yang tertarik dengan isu toleransi dan keberagaman, sehingga harapannya beliau-beliau dapat dijadikan sebagai role model bagi maba miba. Acara dipandu oleh Bapak Satria Adhitama sebagai dosen PKN STAN serta dibuka dengan sambutan oleh Direktur PKN STAN Bapak Rahmadi Murwanto.

Dalam Sambutannya Pak Rahmadi menyampaikan bahwa isu utama yang mengancam keutuhan NKRI adalah keberagaman dan toleransi. Dalam sambutan tersebut beliau menyampaikan bahwa keberagaman tidak dapat dilihat sebagai persoalan namun dapat dijadikan keunggulan. Keberagaman Ini tidak akan menjadi keunggulan jika tidak didukung dengan sikap yang baik. Sikap berpikir kritis dan memahami orang lain merupakan sikap yang dapat menjadikan keberagaman menjadi keunggulan. Terakhir Pak Rahmadi juga menyampaikan bahwa menghargai orang lain itu merupakan bentuk penghargaan terhadap diri sendiri, jika ingin dihargai maka harus menghargai orang lain. Jika orang lain ingin berbuat baik kepada kita maka kita harus berbuat baik kepada orang lain terlebih dahulu walaupun timbal baliknya belum dirasakan saat itu juga. “Jangan pernah meminta orang lain untuk melakukan sesuatu tetapi mulai dari diri anda melakukan sesuatu untuk orang lain”, tutur beliau sebagai pernyataan penutup yang menandai berakhirnya sambutan.

Memasuki acara inti kak Gerintya yang akrab disapa Tya menyampaikan awal mula didirikannya Indika Foundation yang lahir karena adanya problem terkait keberagaman, intoleransi, dan inklusivitas. Oleh karena itu Indika Foundation meresponnya dengan gerakan termasuk milenial islami dan toleransi.id. Toleransi.id ini membantu teman-teman yang masih muda dengan usia rentang 18-25 tahun memahami makna dari keberagaman dan toleransi dan bagaimana cara merangkul keberagaman dan inklusivitas. Bagaimana cara merangkul semua hal tersebut melalui aspek berpikir kritis, kemampuan berempati, dan kemampuan berinteraksi. Hasil riset menunjukkan banyak terjadi kasus-kasus intoleransi yang terjadi di Indonesia sehingga toleransi.id tergerak mengambil peran dalam hal ini.

Kemudian beliau berdua menyampaikan pengalaman masing-masing terkait dengan keberagaman. Kak Khairi pernah mengalami masa kuliah dimana setiap organisasi yang diikutinya memiliki panggilan yang berbeda-beda. Selain itu kak Khairi juga pernah memiliki teman dekat yang berbeda agama sehingga sudah sangat akrab dengan toleransi. Sedangkan kak Tya menyampaikan pengalamannya waktu kuliah mulai mengenal berbagai budaya dan etnis dan ibadah agama lain yang tidak sama dengan kak Tya. Beliau menuturkan bahwa dalam ceritanya ketika berteman dengan orang muslim, beliau sadar bahwa hal ini hanya merupakan satu identitas masih banyak lagi identitas lain yang belum Kak Tya ketahui seperti identitas etnis, sosial ekonomi, physical, nasionalisme dan lain lain.

Dok. pribadi: Penjelasan dari Kak Tya dan Khairi di Talkshow Sabang Merauke

Selain itu Kak Khairi dan Kak Tya memberikan tips-tips supaya tidak kaget menghadapi perbedaan budaya. Kak Tya menyampaikan beberapa tips dimana kita harus menerima terlebih dahulu fakta bahwa kita hidup bersama dengan orang lain sehingga kita harus menerima keberagaman itu dan itu adalah hal wajar. Mencoba menumbuhkan empati dan keingintahuan perbedaan itu sendiri, bertanya hingga kita memahami betul suatu identitas. Serta merangkul dan melindungi keberagaman dan memutus rantai intoleran dengan tidak berprasangka dan berasumsi sehingga tidak ada kebencian yang muncul. Kak Hairi juga memberikan tips bahwa kita sebagai mahasiswa, anak muda harus sering sering memperluas wawasan salah satunya dengan membaca. Karena semakin luas pengetahuan dan wawasan seseorang akan semakin luas pula tenggang rasa dan toleransinya dan sebaliknya semakin sempit pengetahuan dan wawasan akan semakin sempit juga toleransinya maka itulah pentingnya kita ngobrol.

Talkshow Sabang Merauke diakhiri dengan sesi tanya jawab yang diberikan kepada dua penanya dari maba dan miba. Tak lupa juga sebagai penutup kedua narasumber menyampaikan pernyataan penutup, Kak Tya berpesan bahwa saat masa kuliah adalah masa teman-teman untuk memperbanyak pengetahuan dan pengalaman. Selain itu perlunya membangun hubungan positif dengan orang lain agar tercapai kesuksesan hidup. Kak Khairi juga menambahkan bahwa masa kuliah harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya “Manfaatkan masa kuliah dengan sebaik baiknya, selamat ini kesempatan emas jangan berhenti ditengah jalan,” sambung Kak Khairi. 

Reporter: Siti Mega Hatinahtun dan Surono


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Back to Top

Cari Artikel